Durian Runtuh Cintapun Utuh
Selama ini aku sangat merasa kesepian, walaupun banyak orang di sekelilingku tanpa hadirnya seorang pendamping. Kini usiaku telah mencapai waktunya. Dan mama terus menyuruhku untuk segera menikah. Sampai menjodohkan aku dengan beberapa lelaki pilihannya. Memang ku akui, selama ini aku tidak pernah berfikir tentang pacar, apalagi menikah, yang aku pikirkan hanyalah kerja, kerja dan kerja. Oleh karena itu, aku ingin sejenak menghibur diriku disini.
Waktu makan siang telah tiba. Aku memilih untuk makan di luar. Aku melihat ada sebuah restaurant kecil dengan background yang indah. Saat aku masuk tiba-tiba seorang wanita menabrakku hungga terjatuh. Ternyata ia adalah pemilik restaurant itu yang tak lain adalah teman lamaku Rini. Ia sekarang telah menikah dengan usahawan kaya dari Jepang. Ia membuka bisnis restaurant yang sudah bercabang dimana-mana, yang salah satunya di sini. Dan akupun mendapat makan siang gratis darinya.
Setelah itu, ia mengajakku berkunjung ke rumahnya. Seperti halnya pedalaman, rumahnya pun tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Sederhana tetapi sangat rapi dan bersih. Aku pun nyaman berada di sana. Di sana, kami berdua pun mengobrol layaknya sahabat yang saling curhat dan aku juga bertemu dengan kedua anaknya yang lucu-lucu. Anaknya yang pertama sudah memasuki sekolah dasar, sedangkan yang kedua baru berumur tiga tahun. Aku baru menyadari jikalau waktu terus berjalan dan kini matahari telah menyembunyikan sinarnya, waktunya tuk pulang dan istirahat. ***
Sang surya kembali memancarkan sinarnya yang hangat. Hari ini aku akan mencari buah favorite ku yaitu durian. Kudengar ada sebuah perkebunan durian yang sangat luas dan terkenal dengan buahnya yang lezat dan letaknya tak jauh dari desa sebelah. Ternyata itu benar, banyak pohon durian yang sedang berbuah di sana. Ku cari sang pemilik kebun itu yang katanya sedang berada di dalam perkebunan. Lama kemudian aku tak jumpa dengan sang pemilik. Akupun beristirahat sejenak di bawah pohon durian yang sangat besar dengan buahnya yang lebat.
Tiba-tiba sebuah durian terjatuh dan hampir saja mengenai kakiku. Dan ada seorang lelaki muda menertawai aku. Akupun begitu kesal dan langsung mengejarnya sampai kami berdua lelah tak berdaya. Akupun berbicara padanya, “Sudah cukup! Itu tidak lucu tau, bukannya di tolong malah di ketawain. Gimana sich kamu ini!” Lelaki itu terus tertawa dan akhirnya berhenti lalu menjawab,”Hehe, abiez emang lucu sich. Lihat tuh wajah kamu yang hampir kejatuhan durian! Ya udah aku minta maaf, sekarang Siapa kamu? Dan ngapain kamu datang kemari?” “Namaku Jessie, aku kemari mau beli durian dan tadi aku mencari pemilik kebun ini. Tapi lama gag ketemu akhirnya aku istirahat di situ sampai kejatuhan durian kayak tadi. Lalu siapa kamu? Apa kamu tau dimana pemilik kebun ini?” “Nama ku Rafky, Aku adalah orang yang kamu cari. Aku adalah pemilik kebun ini.” “Ow.., ternyata kamu pemilik kebun ini, sampai capek aku mencarimu.”
Kami berdua pun berkenalan dan aku tak menyangka dia adalah pemilik kebun yang sangat luas ini. Lalu aku diajak ke sebuah tempat yang sering di gunakan untuk pembeli yang ingin memakan durian langsung dari pohonnya. Dia mengambilkanku durian yang jatuh sendiri dari pohonnya. Katanya, durian yang jatuh sendiri dari pohonnya itu lebih enak ketimbang durian yang di petik. Kami memakan durian-durian itu sampai kami kenyang dan ketika aku ingin membayar buah durian tersebut, ia menolak dan memberi dengan gratis sebagai tanda perkenalan kita. Ia juga memberiku lagi untuk ku bawa pulang. Sebelum aku pulang, ia menanyakan di mana aku tinggal. Ia berjanji akan berkunjung dan membawakan durian untukku.
***
Setiap hari aku tak henti-henti memikirkan lelaki itu. Aku masih teringat ketika dia tertawa melihatku karena buah durian yang jatuh hampir mengenai diriku. “Ting..tung ..ting…tung…” Tiba-tiba bel rumahku berbunyi, kubuka pintu dan ternyata lelaki itu Rafky dan teman lamaku Rini. Pertama ku kira ia adalah suami Rini. Dan tak kusangka ternyata ia adalah adik Rini. Ia mendapat tugas mengelola perkebunan durian yang kemarin aku kunjungi dan itu akan menjadi miliknya apabila ia telah menikah.
Setelah kami berbincang-bincang lama, Rini mendapat sms dari suaminya untuk segera menemuinya. Akan tetapi Rafky minta ijin pada Rini untuk mengajakku keluar. Dan kami pun pergi berdua. Ia mengajakku jalan-jalan mengelilingi desa. Ia adalah seorang lelaki yang menarik dan cukup romantis juga. Dari awal kita bertemu sampai saat ini aku selalu nyambung ketika mengobrol dengannya. Kami berdua punya banyak kesamaan dan kesenangan yang sama.
Malam ini aku teruz memikirkannya, karana esok adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Dan hari yang ku takutkan telah tiba mengejutkanku. Hari ini aku bermaksud menemui Rafky, Rini, dan keluarganya untuk berpamitan karena hari ini aku harus kembali menjalani aktifitas pekerjaan di Jakarta. Tetapi aku sangat sedih, karena tidak dapat bertemu dengannnya. Walaupun begitu aku tetap berusaha berpamitan dengan menulis surat untuknya yang ku titipkan pada Rini.
“Good bye all... “ “Good bye…….” Akhirnya aku meninggalkan desa itu dan kembali menghirup hiruk pikuk kehidupan di kota. Rasanya aku ingin tinggal disana untuk selamanya. Tapi aku tak bisa karena pekerjaanku juga tak dapat tuk di tinggalkan. Telah sampai ku di rumah, tetapi ia tak kunjung menhubungiku. Aku sadar, aku memang bukan siapa-siapa baginya, tetapi setidaknya dia menghargai permintaanku itu.
Hari demi hari tlah ku lalui dengan segudang pekerjaan yang melelahkan. Hari ini aku di undang oleh Dimas teman SMA ku dulu, yang mempunyai perusahaan es cream. Ia melouncingkan sebuah es cream “Backcream” terbarunya yang berasa durian dan aku berkesempatan mencicipinya sampai puaz. “Hehe, secara dia tau kalau aku suka banget dengan es cream apalagi rasanya durian. Sekarang aku tlah siap tuk pergi, rasanya pengen cepat-cepat mencicipi, hehe”.
Aku melihat seorang lelaki yang sekilas mirip dengan Rafky. “Ah, mungkin ini hanya imaginasi ku saja, tak mungkin dia bisa berada disini. Lagi pula dia pasti sibuk dengan perkebunannya”. Dimas melambai padaku, dan aku melangkah menghampirinya. Sekarang waktu yang ditunggu-tunggu telah di mulai, dimana Dimas sebagai direktur utama untuk melouncingkan es cream terbarunya dan memberikan sedikit sambutan. Ia memperkenalkan seorang usahawan muda yang memberinya stok buah durian yang menjadi bahan pembuatan es cream. Ia tak ternyata adalah Rafky, yang semula ku fikir hanya imaginasi balaka ternyata adalah benar.
Setelah waktu istirahat tiba, aku segera mencarinya karena aku sangat ingin bertemu dengannya. Tetapi tiba-tiba ia menghilang tak tau kemana. Ku coba bertanya pada Dimas, tapi ia juga tak mengetahuinya. Akhirnya aku kembali pada acara, dan menikmati acara ini. Aku dan Dimas berlomba menghabiskan es cream dengan cepat.
Seusai acara aku berpamitan dan langsung menuju ke mobil. Tanpa sadar, ada seorang lelaki di dalam mobil yang berusaha membungkam mulutku. Ternyata lelaki itu adalah Rafky yang sengaja ingin mengagetkanku. Ia lalu mengajakku pergi ke rumah orangtuanya yang tak jauh dari rumah Dimas. Di sana kami berbincang-bincang sampai akhirnya Rafky mengungkapkan maksudnya mngajakku kemari. Ketika itu suasananya mendadak jadi serius. Akupun dikejutkan oleh permintaan Rafky untuk menjadikanku kekasihnya, ia mengungkapkan seluruh isi hatinya padaku di depan kedua orangtuanya. Tubuh yang gemetar dan jantung yang berdebar-debar itulah yang ku rasa, aku terdiam tanpa satu katapun. Orangtuanya juga senang dan menyetujui niat Rafky, karena mereka sudah mengenalku sejak aku berteman dengan Rini. Aku yang mulanya hanya terdiam, lalu ku berkata “Maaf…..”. Belum sampai selesai ku bicara, Rafki langsung memotong perkataanku. Ia menyanggah “Mengapa? Mengapa kau tak mau…? Apa kau tak suka padaku..? Lalu, aku menjelaskan maksud perkataanku yang sempat terpotong. “Hey.. tunggu dulu, Maksudku, ma’af aku tidak bisa nolak… hehehehe. ^.~ . Rafky pun senang dan langsung memelukku dengan meneteskan air mata kegembiraan.
The End
Catatan :
Ini adalah cerpen pertama yang ku buat ketika SMP, harap maklum, hehe :)
0 komentar:
Posting Komentar